Riya berasal dari kata araa dan riya’un yang berarti memperlihatkan. Kata riya dapat kita temukan diantaranya dalam Al-Qur’an surat Al Maa’uun ayat 6 yang Allah menyebutkan sebagai salahsatu sifat orang-orang yang mendustakan agama.

Sedang Sum’ah artinya memperdengarkan sesuatu perbuatan amal yang sebelumnya tersembunyi atau rahasia.Izudin Abdussalam mendefenisikan riya sebagai perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah dan sum’ah adalah amal sholeh yang dilakukannya secara diam-diam, tapi diberitakannya kepada orang lain.Rasulullah Saw mengklasifikasikan sifat –sifat ini sebagai syirkul asghar atau syirik kecil sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan, seperti dalam Hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad berikut ini :
` sesungguhnya yang aku khawatirkan pada kamu sekalian adalah syirkul asghar . Mereka bertanya : apakah syirkul asghar itu ya Rasulullah ? beliau menjawab : ‘riya’ . Allah berfirman pada hari kiamat , saat memberi balasan amal kepada hamba-hamba-Nya.” Pergilah kamu kepada orang-orang yang kamu pameri didunia, maka lihatlah , apakah kamu mendapat pahala dari mereka ?’

Dr. Sayid Muhammad Nuh memberikan gambaran tiga tanda riya dan sum’ah yaitu

Pertama Bila disanjung akan bersemangat beramal, tapi bila tidak ada sanjungan atau dicela dia tidak beramal sama sekali.

Kedua Bila ditengah orang, dia giat beramal namun bila sendirian menjadi malas. ` tanda-tanda orang berbuat riya : malas beramal bila dia sendirian , dan sungguh-sungguh bila ada ditengah-tengah orang . Dia akan menambah amalannya bila dipuji, akan melanggar larangan bila sendirian.'( Imam Ghozali ).

Ketiga yaitu berpura-pura sholeh dan menjauhi larangan Allah bila berada ditengah-tengah orang dan melanggar larangan bila sendirian.

Kedua sifat ini akan menjadikan amal ibadah yang banyak sekalipun menggunung namun ringan laksana debu yang berterbangan . Rasullullah bersabda

“ aku beritahukan tentang kaum-kaum umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan seperti gunung-gunung Mekkah yang putih. Namun Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu seperti debu berterbangan/berhamburan. Bukankah mereka saudara-saudaramu juga ? mereka bangun ditengah malam , sebagaimana kalian beribadat ditengah malam, akan tetapi bila mereka sendirian , mereka akan melanggar larangan Allah .( HR.Ibnu Majah )

Baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah berikut ini :

“orang yang pertama-tama diadili kelak di hari kiamat, ialah orang yang mati syahid. Orang itu dihadapkan ke pengadilan Allah, lalu diperingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya, maka dia mengakuinya. Kemudian dia di Tanya :'” apakah yang engkau perbuat dengat nikmat- nikmat itu ? dia menjawab ,” aku berperang untuk agama Allah sehingga aku mati syahid. Firman Allah, ” engkau dusta ! sesungguhnya engkau berperang supaya dikatakan gagah berani dan gelar itu telah engkau peroleh.” Kemudian dia diseret dengan muka telungkup lalu dilemparkan ke neraka. Setelah itu dihadapkan orang `alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca Al-Qur’an. Diingatkannya semua nikmat yang telah diperolehnya, semua diakuinya. Kemudian ia di Tanya :’ Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu ?’ Ia menjawab :’ aku belajar , mengajar, dan membaca Al-Qur’an karena Engkau. Allah kemudian berfirman :” engkau dusta ! sesungguhnya engkau belajar dan mengajar supaya di sebut orang `alim, dan engkau membaca Al-Qur’an supaya dikatakan Qori , dan itu semua telah engkau dapatkan. Kemudian dia diseret dengan muka menghadap tanah lalu dilemparkan ke neraka. Sesudah itu dihadapkan pula orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Semua kekayaannya dihadapkan kepadanya lalu dingatkan segala nikmat yang telah diperolehnya, dan ia pun mengakuinya. Kemudian ia di tanya :’ apa yang telah engkau perbuat dengan harta sebanyak itu ?’ Ia pun menjawab :’ setiap bidang yang Engkau sukai tidak ada yang ku tinggalkan, melainkan aku sumbangkan semuanya karena Engkau.’ Allah pun berfirman : ` engkau dusta ! sesungguhnya engkau melakukan semuanya agar engkau disebut orang yang pemurah/ dermawan , dan gelar itu telah engkau peroleh”. Kemudian dia diseretlah ia dengan muka menghadap ke tanah lalu dilemparkan ke dalam neraka.( HR.Muslim )

Obat Riya’

Nabi bersabda,

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali dengan obatnya.” (Riwayat Bukhari)

adapun obatnya antara lain adalah:

Hendaklah seseorang itu mengilmui dengan yakin bahwa dirinya adalah sekedar hamba Allah, sedangkan hamba itu tidak berhak menuntut pemberian atau balasan, sebab dia beramal itu hanya karena tuntutan peribadahan saja.

Hendaklah seorang hamba dalam beribadah kepada-Nya dengan penuh cinta, memohon pahala, dan takut terhadap murka-Nya.Senantiasa instropeksi terhadap amalan, apakan dilakukan dengan ikhlas atau riya’.

Selalu mohon ampun pada Allah dan berlindung dari riya’.Memperbanyak ibadah sunnah yang terjauh dari pandangan manusia, seperti shalat malam, shadaqah siriyyah (sembunyi-sembunyi), menangis karena takut kepada-Nya, dan sebagainya.Mengenali riya’ dan penyebabnya, hingga bisa mewaspadai datangnya.

Senantiasa memperhatikan akibat riya’ baik di dunia dan akhirat.Selalu berdoa pada Allah agar ditetapkan hatinya di atas ketaatan kepada-Nya.
يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْ بَنَا عَلَي طَاعَتِكَ“

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hati kami di atas ketaatan-Mu.”Nabi bersabda,“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamilah (pakaian dari sutera atau wol yang indah-red). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (Riwayat Bukhari)